15 Juni 2013

Apapun Makanannya, Sampahnya Bagaimana...??

[Tumpukan sampah di bantaran Cikapundung sekitar curug Dago]

"Apapun makanannya, minumnya tetap teh ….'tiiit' …."    #sensor.

Ini adalah iklan (yang disensor) tentang satu produk minuman ringan yang bisa menyertai apapun makanan yang dikonsumsi. Jika kita gunakan untuk sekedar refleksi atas cara kita makan dan semua tetek-bengek terkait konsumsi, maka kira-kira akan jadi kalimat tanya seperti ini:

"Apapun makanannya, lantas sampahnya bagaimana?"


Ya, apapun makanannya, dan dimanapun tempatnya, maka yang kerap menyisakan persoalan dan luput dari jangkauan kepedulian kita adalah 'bagaimana dengan sampahnya?'. Apakah hanya cukup dibuang, dibuang, dan dilupakan?

26 Mei 2013

Biarkan air meresap lebih banyak, jangan biarkan 'mengalir sampai jauh'

[Santri 'Nge-Bor', 25/05/2013]
Kali Bengawan menginspirasi seniman besar Gesang untuk menggubahnya menjadi syair lagu Bengawan Solo yang terkenal melintas bangsa, di dalamnya ada kalimat syair "... air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut"....  
Nampaknya ingin menekankan keberlimpahan air kali Bengawan yang mampu bertahan berkelok ratusan kilometer hingga mencapai lautan, tak peduli itu di musim kemarau sekalipun.

Saat lagu itu diciptakan tentu saja kondisi lingkungan alami tangkapan dan resapan di hulu hingga sepanjang aliran sungai masih terjaga dari pengrusakan besar-besaran, sehingga keberlimpahannya tetap terjaga di musim kemarau sekalipun. Bahkan ...

05 Juli 2010

Berpikir Melempar Masalah dalam Sampah

Sampah hingga saat ini masih dipandang sebagai sumber masalah bagi kebanyakan masyarakat, bahkan istilah “sampah masyarakat” bagi sebagian orang berarti sesuatu yang sering menimbulkan masalah dalam masyarakat. Upaya membuang sampah sejauh ini menjadi hal yang dianggap wajar di lingkungan kita sebagai upaya menghindarkan dan menjauhkan masalah.

Namun benarkah anggapan membersihkan sampah dari rumah kita dan membuangnya sejauh mungkin dari tempat kita sebagai jalan keluar terbaik menyelesaikan persoalan sampah dan terhindar dari masalah?

06 Februari 2009

biopori

Mengelola sampah organik dari rumah dan pekarangan kita saat ini bisa dilakukan dengan berbagai cara praktis dan sederhana, bila pada tulisan sebelumnya dikupas tentang pengkomposan metode keranjang takakura untuk mengelola sampah organik dari dapur dan rumah kita, kali ini saya ceritakan salah satu metode lain untuk mengelola sampah organik ini, yang bisa jadi pilihan untuk dilakukan di rumah kita, terutama bagi kita yang masih memiliki cukup lahan, pekarangan atau kebun pekarangan di rumah kita.
Metode ini bernama Lubang Resapan Biopori, yang sudah populer di Indonesia, diperkenalkan hingga populer berkat kawan-kawan tim LRB IPB (lihat websitenya di www.biopori.com)

Cerita tentang LRB ini, saya rangkai dari acara Berbagi Pengalaman para pengguna/pemakai metode Lubang Resapan Biopori, yang diadakan pada tanggal 18 januari 2009 di Bandung oleh kawan-kawan Zero Waste Community Bandung.

Karena fokus sharing pengalaman acara ini di wilayah praktis dan persoalan komposting sampah, maka data-data tambahan untuk melengkapi tulisan ini saya kutip juga dari website biopori IPB dan beberapa sumber lain. Tentunya bukan untuk membajak informasi(karena konon dari website tsb dilarang dikutip sebagian atau seluruhnya), melainkan untuk mendukung data dari informasi yang diperoleh pada pertemuan share pengalaman tersebut.
Mari kita mulai....

23 Oktober 2008

Komposting Rumahan 'Takakura'

Menyoal urusan 'sampah', nampak tidak akan pernah ada usangnya, selalu aktual melintas jaman (timeless), selama manusia hidup tentu menghasilkan limbah (sampah), belum lagi jika gaya hidup yang dipilih adalah 'gaya hidup sampah'.

[Gambaran komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat]

Inilah gambaran komposisi sampah yang biasa kita hasilkan dari rumah kita, angka ini juga mewakili volume rata-rata sampah skala kota. Kenyataannya dari seluruh sampah yang kita anggap “sampah tidak berguna” dan tak bermanfaat itu, ternyata setengahnya (bahkan faktanya lebih) adalah jenis organik (wana hijau), yang tentu saja bisa dikelola. Sedangkan setengah lainnya (atau bahkan kurang) adalah jenis nonorganik. 

Lebih dari 20-Persen dari sampah non-organik (warna biru) faktanya bernilai manfaat, bisa didaur ulang. Jadi nyatanya hanya maksimal 30-persen saja (bahkan kurang dari itu) yang benar-benar residu atau tidak dapat dikelola (dikompos maupun daur ulang).

Bila minimal 50-Persen adalah jenis yang bisa dikelola (dikompos), dan 20-Persen lagi bisa didaur ulang, maka totalnya minimal 70-Persen merupakan sampah yang bisa dikelola dan bernilai manfaat. Ini tentu bukan angka yang kecil dalam sebuah upaya mengelola dan menyelesaikan persoalan sampah, apalagi faktanya angka yang bisa dikelola dan didaurulang itu seringkali melampaui 70-Persen. 

Kontribusi solusi yang berarti, ketimbang terjebak pada perdebatan tak kunjung usai tanpa ada kontribusi, hanya berdebat teori di urusan residu yang 30-Persen dengan teori macam-macam. Pertanyaanya adalah bagaimana kita mulai mengelola sampah yang kita hasilkan....???