13 Desember 2013

Memaksimalkan Peran Biokomposter Biopori

Jumat, 13 Desember 2013 menjadi hari yang cukup khusus bagi LPTT Bandung, hari ini bertempat di aula pelatihan LPTT diselenggarakan kegiatan  TFT (Training For Trainer) tentang biopori oleh jaringan panitia penyelenggara aksi sejuta biopori di kota Bandung.

Bukan kali pertama di gedung ini diselenggarakan pelatihan dengan tema materi terkait biopori atau biokomposter, namun kali ini menjadi agak berbeda karena LPTT bukan penyelenggara kegiatan, melainkan sekedar memfasilitasi tempat pelatihan, sebagai bentuk apresiasi bagi upaya-upaya (partisipasi) masyarakat dalam membangun solusi atas persoalan lingkungan di kota Bandung, khususnya dalam mengatasi persoalan sampah kota dan banjir cileuncang melalui aksi biopori (biokomposter).

15 Juni 2013

Apapun Makanannya, Sampahnya Bagaimana...??

[Tumpukan sampah di bantaran Cikapundung sekitar curug Dago]

"Apapun makanannya, minumnya tetap teh ….'tiiit' …."    #sensor.

Ini adalah iklan (yang disensor) tentang satu produk minuman ringan yang bisa menyertai apapun makanan yang dikonsumsi. Jika kita gunakan untuk sekedar refleksi atas cara kita makan dan semua tetek-bengek terkait konsumsi, maka kira-kira akan jadi kalimat tanya seperti ini:

"Apapun makanannya, lantas sampahnya bagaimana?"


Ya, apapun makanannya, dan dimanapun tempatnya, maka yang kerap menyisakan persoalan dan luput dari jangkauan kepedulian kita adalah 'bagaimana dengan sampahnya?'. Apakah hanya cukup dibuang, dibuang, dan dilupakan?

26 Mei 2013

Biarkan air meresap lebih banyak, jangan biarkan 'mengalir sampai jauh'

[Santri 'Nge-Bor', 25/05/2013]
Kali Bengawan menginspirasi seniman besar Gesang untuk menggubahnya menjadi syair lagu Bengawan Solo yang terkenal melintas bangsa, di dalamnya ada kalimat syair "... air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut"....  
Nampaknya ingin menekankan keberlimpahan air kali Bengawan yang mampu bertahan berkelok ratusan kilometer hingga mencapai lautan, tak peduli itu di musim kemarau sekalipun.

Saat lagu itu diciptakan tentu saja kondisi lingkungan alami tangkapan dan resapan di hulu hingga sepanjang aliran sungai masih terjaga dari pengrusakan besar-besaran, sehingga keberlimpahannya tetap terjaga di musim kemarau sekalipun. Bahkan ...

14 Februari 2013

Tanah (Kompos) Itu Sehat

[Salah satu anak menunjukan tanganya yang berlumur tanah media pengomposan, tak jijik dan tak ragu]

Hari ini saya dapat kesempatan ngisi sesi materi tentang pemisahan sampah dan mengkompos dengan metode keranjang kompos 'Takakura', di sekolah Cendikia Muda Bandung. 

Saat permintaan mengisi sesi itu disampaikan rekanku, imajinasi yang muncul di kepala adalah masa kanak-kanak yang penuh energi dan gerak, lengkap dengan suasana hiruk-pikuk dan bayangan anak-anak (kami waktu kecil) yang berlari kesana-kemari.

Imajinasi masa kecilku menuntunku dalam menyiapkan materi yang akan 'didongengkan' pada mereka mahluk-mahluk mungil yang hebat ini.

Bermain, bercerita, dan bergerak dinamis menjadi prinsip dasar yang musti saya jadikan acuan berbagi pengetahun dengan mereka.

29 Desember 2012

Parpol dan Bisnis Rokok Ternyata Sama Saja !

Baligo-baligo iklan 'rokok maut' dan bendera parpol bertumpu pada pepohonan
peneduh yang masih kecil dan rapuh, di Jalan Jakarta, kota Bandung, (29/12/12).

Beberapa dari pohon yang dijadikan tumpuan tegaknya baligo iklan rokok yang menyesatkan ini masih memiliki lingkar batang yang kecil, bahkan lebih kecil dari tinga baligo yang terbuat dari batang bambu.

Selain itu tentu saja akar dari pohon-pohon peneduh yang masih mungil ini belumlah kokoh untuk dapat bertahan lama menahan beban batang baligo dan terjangan angin kencang di musim hujan.

Lebih miris lagi ternyata bendera-bendera salah satu parpol rupanya lebih dulu bertengger di pohon-pohon yang sama dengan baligo rokok maut tersebut ditegakkan.

Parpol yang konon cukup antipati terhadap kampanye gila rokok ini ternyata "serasi" berduet maut tepi jalan dalam batang-batang pepohonan, nampak serasi dan sama saja parahnya. 
Keduanya sama saja tidak punya kepedulian, empati dan kesadaran akan pentingnya pohon-pohon tersebut, bukan sekedar soal estetika belaka.

Perilaku semena-mena dan tidak bertanggung jawab ini diperparah dengan pembiaran dari pengelola kota akan hal-hal semacam ini. Selama iklan-iklan ini bisa memberi pemasukan bagi kantong pengelola kota, maka jangan harap hal semacam ini akan diperhatikan.

Pengelola kota yang abai akan persoalan-persoalan kotanya, dan membiarkan berbagai macam pelanggaran terjadi oleh tangan-tangan pemodal dan pengusaha, selama mereka bisa bayar upeti bagi kantong birokrat di kota ini.

Parah...

* * * *
 

10 Desember 2012

Mati diseberang istana beton

Bangkai Musang Luwak (Paradoxus Hermaproditus)
Hancurnya ekosistem alami kawasan Bandung utara tidak hanya berdampak langsung pada masyarakat kota Bandung, beberapa satwa lokal endemikpun kerap menjadi korban.

Seperti yang terjadi pada minggu 9 Desember 2012 di kawasan Resort Dago Pakar Bandung, seekor musang luwak (Paradoxurus Hermaproditus) ditemukan mati di kawasan pemukiman mewah Resort Dago Pakar.

17 September 2012

KOTA YANG BERSAHABAT (Siapa Harus Hati-hati ??)

Perbaikan trotoar dilakukan agar pejalan kaki lebih nyaman mendapatkan haknya. Namun jika proses pembangunannya dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan pejalan kaki dan pertimbangan estetika, maka yang nampak hanya kesemerawutan dan membahayakan pejalan kaki. Foto Bapak Rohadji Trie, diambil di jalan Dipati Ukur Bandung, Agustus 2012.

"HATI-HATI, SEDANG ADA PERBAIKAN JALAN !!"

Kita tentu tidak asing membaca papan pemberitahuan semacam ini di ruang-ruang publik yang sedang  mengalami perbaikan di kota kita. Misalkan saja saat perbaikan pedestrian/trotoar (seperti gambar di atas), perbaikan saluran pipa air air bersih/kotor di tepian jalan, atau saat penggalian tepian jalanan untuk pemasangan kabel-kabel telepon dan sejenisnya.

Pembangunan dan perbaikan fasilitas-fasilitas publik pada dasarnya dilakukan untuk memberi layanan lebih baik dan lebih nyaman bagi publik atau masyarakat penggunannya. Namun bagaimana kenyataannya?

11 Agustus 2012

Alang Alang Pak Ade





Jongko kering tepi jalan 

Tidak sulit menemukan tempat ini, sebuah konstruksi bangunan bambu semi permanen yang nampak mencolok dari jarak puluhan meter karena isinya yang dipadati tumpukan alang-alang. Selain hanya satu-satunya di tepi jalan ini, konstruksinya yang semi permanen nampak kontras diantara bangunan-bangunan permanen lain di sekitarnya yang berderet sepanjang tepian jalan Cikahuripan Lembang.


Sepintas bangunan itu nampak jauh dari kesan sebuah jongko dagangan, bahkan lebih mirip seperti saung darurat tempat menumpuk alang-alang di tepian jalan, limbah tak berguna sisa pembabatan lahan tidur yang siap dibuang atau dibakar. Namun jika lebih teliti mengamati ternyata bangunan semi permanen tersebut adalah sebuah jongko tempat berjualan, sekaligus bengkel kerja tempat penganyaman atap dari bahan alang-alang yang telah dikeringkan secara alami.

Jika dari arah timur jongko semi permanen ini berada di emperan kiri jalan desa Cikahuripan, berdiri tidak lebih dari lima puluh langkah setelah melewati ujung tanjakan lembah curam jalan kolonel Masturi, yang memisahkan Lembang kota dengan Lembang arah Parongpong.

Luasnya paling tidak selebar ukuran dua meja pingpong, terbuat dari konstruksi utama batang-batang bambu. Atapnya ditutup bagor plastik berwarna biru, demikian juga dengan kedua dindidng sisinya, sementara bagian belakangnya ditutup bilik bambu setengah badan.

Bagor plastik yang telah usang pada bagian atapnya rasanya tidak bisa lagi dibilang layak sebagai penahan terik di siang yang menyengat itu. Bahkan kondisinya yang usang dan ngatung itu bisa jadi malah sama sekali tidak akan berguna sebagai pelindung jika hujan mengguyur.

Bagian depan jongko dibiarkan terbuka tanpa sekat, sehingga nampak bagian dalam ruangan jongko yang dipenuhi tumpukan anyaman alang-alang yang tersususun rapih dengan bentuk lembaran-lembaran menyisir berwarna kuning kecoklatan. Hanya menyisakan sedikit celah ruang untuk aktifitas pemiliknya menganyam bahan. Sedangkan ikatan-ikatan alang-alang yang belum dianyam nampak bertumpuk di sisi kiri-kanan luar jongko, dengan ukuran masing-masing ikatan tak lebih dari sepelukan orang dewasa.

28 Maret 2011

sujud


Satu bagian yang tiba-tiba diingat kembali dan pernah (sekedar) tercatat disini

* * *

Saat kutinggalkan kota ini, telah kuniatkan menggeser waktuku di isya nanti, dengan penuh harap umurku masih tersisa hingga malam nanti. Namun tetap saja rasa cemburuku meluap ketika bis melewati masjid-masjid kecil yang didalamnya beberapa syaf ma'mum nampak dalam sujud, syahdu. Aku merindu ada diantara mereka saat itu.

Senja rebah bersama orang-orang yang kelelahan setelah seharian menyebar dan berikhtiar di permukaan bumi, kemudian bersujud khusyu menunaikan bukti penghambaannya berhamparkan sajadah, disaat jangkrik-jangkrik menyempurnakan sujudnya melalui ritual gesekan biola sepasang sayapnya, bersama segenap serangga malam yang juga bersujud penuh penghambaan sesuai tugas takdirnya.

Senja rebah bersama berlaksa awan yang menyempurnakan sujudnya membalut punggung-punggug gunung yang nampak kelelahan diantara perpaduan saputan rona jingga dan tirai langit yang mulai gelap.

Senja rebah bersama pegunungan yang menyempurnakan sujudnya memantulkan kumandang adzan yang menyeruak dari atap-atap kubah masjid, melesat bertunggang pembawa kabar gembira.

Senja rebah bersama sang pembawa kabar gembira yang menyempurnakan sujudnya mengantarkan kumandang adzan melintasi petak-petak sawah, kebun, mendaki perbukitan, atau kadang turun ke lembah-lembah, menyusup diantara dinding-dinding pemukiman kampung sembari sesekali jemarinya memainkan pucuk-pucuk pepohonan serta membelai kepenatan orang-orang yang letih di ujung petang setelah berikhtiar seharian.

Senja rebah bersama bulir-bulir kristal bening yang merembes tiba-tiba, dari dua kelopak mata, diantara suasana hati yang begitu syahdu, mengingat keagunganNya.

Tasik – Bandung, 05mei - juni - 04juli 2008.


Segala sesuatu yang hidup, sesungguhnya selalu bersujud, Kecuali manusia,Karena sujud harus menjadi pilihan yang sadar (Kabir Helminski)

* * *

09 November 2010

imagologi SBY ...

“zaman ini adalah zaman dimana idealisme dikalahkan oleh realitas dan realitas tidak berdaya dihadapan pencitraan”. (Milan Kundera)


     Dalam bingkai demokrasi saat ini media berperan luar biasa penting, terutama dalam membentuk opini publik dan mempengaruhi masyarakat secara luas. Pesan yang disampaikan melalui media mendapat ‘feed back’ dari publik, hingga menjadikan media sebagai  pilar kelima dari demokrasi. Media menjadi sarana yang turut mempengaruhi dan menjaga eksistensi demokrasi, tidak hanya mempengaruhi, tapi sekaligus menjangkau lebih luas pada kehidupan publik.

     Indonesia merupakan negara dimana masyarakatnya sangat majemuk dan memiliki ikatan kuat pada tradisi budaya leluhur, mistikus serta ‘pemujaan’ pada figur-figur yang(dianggap) memiliki kharisma. Budaya patriarkis yang tumbuh dan mengakar di negeri ini mewujud hingga ke dalam bentuk pengkultusan sosok(pemimpin) yang dianggap memiliki kemampuan diluar nalar bahkan sosok yang dianggap ‘ngelmu’.

     Karakter dan budaya ini belum luntur hingga hari ini, bahkan pada kenyataanya sulit untuk berubah, hanya berganti rupa dan dikemas dalam bentuk sajian ‘entertaint’ yang ditunjang oleh hadirnya perangkat media yang lebih modern yang mampu menyasar masyarakat hingga pelosok-pelosok, hingga bisa menggiring opini masyarakat luas terhadap satu isu dan persoalan yang dikemas dan dicitrakan tertentu melalui media (terutama elektronik dan cetak). Masyarakat akhirnya bukan percaya pada realitas, namun lebih menyandarkan kepercayaannya kepada apa yang dikatakan dan apa yang diiklankan media.

    Dalam dunia politik terutama politik pencitraan, media tentu saja menjadi kekuatan yang tidak bisa dielakan, seperti yang dilakukan pemimpin negeri ini, dimana masyarakat hari ini masih mudah terbius oleh opini yang dikembangkan dan dikemas ‘di belakang layar’ melalui sosok SBY.

    Pencitraan adalah sebuah karya kreatif yang dibalut dengan berbagai teknik persuasi, yang hasilnya menampilkan sesuatu yang lebih menarik dan meyakinkan. RM Pollay (1983) mengungkapkan, citra diproses dan dibentuk dari suatu realitas, dia beranjak dari kenyataan, kemudian dibingkai dalam suatu abstraksi yang diberi makna. Sehingga politik pencitraan secara sederhana bisa dikatakan merupakan politik mengemas sebuah realitas kedalam satu tampilan menarik dan bermakna sesuai kepentingan pengusungnya.

     Seiring perkembangan, politik telah menjadi variabel yang melebur dengan konsepsi pencitraan. Politik kontemporer telah bertransformasi menjadi bagian dari budaya pop yang kadang kala lebih bersentuhan dengan ‘persepsi’ dan ‘citra’ dibandingkan dengan realita. 

     Fenomena ini sendiri berjalan linier seiring dengan perkembangan budaya televisi dan digital. Dalam Politics and Popular Culture, Street (1997) melukiskan genre politik ini sebagai a matter of performance. Permainan di depan pemirsa televisi menjadi bentuk seni pertunjukan. Dalam kondisi ini, citra, kesan, dan penampilan luar adalah segalanya. Ia perlu dikemas agar memikat masyarakat.

      Secara praktis, politik pencitraan sendiri dapat terbagi kedalam tiga pendekatan, yaitu: Iklan(advertising), Public Relation, dan Personal Contact. Ketiganya memiliki derajat kegunaan yang setaraf, tergantung pada situasi (where/when) dan target (who) yang dijadikan sasaran. Yang paling umum dikenal tentu saja adalah iklan(advertising), yang kehadirannya sering dianggap barometer di era political marketing.

    Iklan politik merupakan pendekatan yang sangat ampuh menyasar target kesaradan(awareness) dalam jumlah besar dan cepat, dari pusat perkotaan hingga pelosok-pelosok negeri seperti di Indonesia (terutama melalui media elektronik dan cetak). Namun disisi lain iklan juga memiliki keterbatasan dalam hal penyampaian pesan yang terkekang oleh batasan dari instrumen media yang dipakainya, termasuk dalam iklan politik.

     Pendekatan lain adalah Public Relation, biasanya berkaitan dengan terbangunnya suatu persepsi melalui pemberitaan yang ada di media. Sesuai dengan penjelasan Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw dalam tulisan mereka “The Agenda Setting Function of Mass Media” (1972) yang mengatakan jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.

      Penggunaan media ini biasa digunakan dalam upaya membangun opini publik secara implisit. Pembangunan citra dilakukan melalui pemberitaan dan opini secara berkelanjutan untuk menanamkan persepsi tertentu khalayak yang disasar. Di Indonesia sendiri, cara ini belum terlalu banyak digunakan layaknya di negara-negara maju.

     Yang terakhir adalah personal contact. Pendekatan klasik ini tidak kalah penting dilakukan, terutama di negara yang masih berkembang. Biasanya dilakukan melalui event, pengerahan massa dalam masa kampanye, ataupun secara door to door. Misalnya sebagaian masyarakat di Indonesia pada masa kampanye masih merasakan perlunya kehadiran seorang kandidat/pejabat secara langsung. Hal ini terasa lebih kuat aspek emosionalnya dalam penyampaian sebuah pesan. 

    Dalam kampanye politik yang berbasi pencitraan ini presiden SBY memang boleh dibilang cukup piawai. Contohnya saat presiden berpidato di Amerika Serikat sebagai upaya meyakinkan publik AS tentang Indonesia yang sudah berubah, yang ketika itu dinilai begitu memikat, hingga kabarnya mampu mengundang standing ovation dari mereka yang hadir.

    Pidato seperti itu memang diperlukan disaat Indonesia saat itu menghadapi banyak kendala karena citra yang buruk. Indonesia disebut tengah mengalami krisis keuangan, capital flight, tidak stabil, penuh konflik etnis, pelanggaran HAM, pergolakan separatisme dll. Indonesia hari ini bukanlah Indonesia pada masa lalu, Indonesia hari ini adalah Indonesia yang telah berubah.

     Namun apakah lantas pencitraan yang dilakukan SBY itu sesungguhnya menyasar persoalan yang substansial dan persoalan pokok yang terjadi saat ini di negara ini? Kemudian pada hari ini apakah model-model pidato yang menentramkan seperti itu yang kerap disajikan pada rakyatnya hari ini merupakan realitas yang terjadi di lapangan? Ataukah sesungguhnya masih banyak (kalau tidak dikatakan semuanya) yang dicitrakan baik dan positif itu sesungguhnya hanya seolah-olah saja dari realitas sesungguhnya? 

     Untuk bisa menilai mana yang merupakan realitas dan mana yang merupakan sekedar ‘seolah-olah’ saja ini tentu kita haruslah kritis melihat dan mendalami substansi persoalannya satu persatu. Namun yang pasti adalah kita mutlak berhati-hati dengan jebakan model politik pencitaraan ini, karena pada kenyataannya pencitraan tidaklah selalu berbanding lurus dengan realita yang terjadi, dia hanyalah abstraksi dari kepentingan pemaknaan sesuai tujuan dari pengusungnya.

     SBY memanfaatkan politik pencitraan dan menjadikannya sesuatu yang penting dilakukan dalam mengalang dukungan dari rakyat negeri ini, tentu saja ini dilakukan pada saat sebuah realitas masih memiliki ketidakjelasan, meragukan dan memerlukan jawaban dari pertanyaan, maka kemasan untuk menyakinkan menjadi sangat berpengaruh untuk menarik objek atau realitas itu mendapatkan kepercayaan di hati masyarakat.

     Selain itu karakter dan kultur masyarakat negeri ini (yang sudah mengakar dan sulit berubah) yang lebih menyandarkan rasa percaya dan kenyamanannya pada apa yang didengar, dikatakan dan diisukan bukan menyandarkan pada realitas yang terjadi dan dialami, membuat peran politk pencitraan mendapat tempat yang sangat leluasan di dalam kancah perpolitikan negeri ini, bahkan menjadi arus utama model pendekatan publik yang dilakukan SBY terhadap rakyatnya. Tentu saja untuk secara cepat dan masif mengambil dan meraih simpati dan dukungan masyarakat.

     Namun demikin bukan berarti strategi politik ini tidka memiliki konsekwensi, karena tentu saja muncul dampak dari apa langkah dan pilihan politik yang ditempuh SBY dan lingkaran kekuasaannya itu. Memang model ini bisa secara cepat meraih simpati dan dukungan masyarakat karena menyentuh sisi empati dan rasa(afeksi) nyaman yang didapat masyarakat secara luas, bukan sisi kritis berpikir nalar. Serta membuat stabilitas yang diharapkan bisa cepat terwujud dalam waktu singkat.

     Namun kondisi-kondisi itu adalah kondisi rapuh dari sebuah kepalsuan, karena tentu saja bila semua tidak seperti realitasnya maka secara cepat pula menjadi sesuatu yang mematikan, ibarat pisau bermata dua. Ketika akhirnya kesadaran masyarat menjadi cepat pulih dan menjadi kritis memandang realitas, maka semua akan berbalik menjadi sesuatu yang menyerang balik pengusungnya. Apalagi bila apa yang dikatakan dan di janjikan tidaklah sesuai dengan realitas yang terjadi dan dilakukan.

    Strategi politik pencitraan hanya akan menjadikan menara gading yang jauh dari persentuhan dengan realitas di lapangan. Masyarakat dibius dan dibuai dengan pernyataan-pernyataan yang nyaman dan menentramkan, namun dalam kenyataannya semakin hari semakin muncul jurang yang dalam antara yang disampaikan dengan apa yang terjadi, dialami dan dirasakan masyarakat.

     Kronisnya pada hari ini adalah karena pemimpin negara saat ini nampaknya sudah terlalu percaya diri pada politik pencitraan yang mewarnai kepemimpinannya, yang menjadikannya semakin tidak melek terhadap realitas yang terjadi dan dialami langsung oleh rakyatnya.

     Beberapa contoh yang bisa dicermati dari berbagai peristiwa dan pengambilan kebijakan pemimpin negeri ini antara lain seperti disaat polemik di tubuh Kepolisian dan Kejaksaan Agung tidak dapat terhindarkan karena presiden dinilai tidak tegas terhadap institusi tersebut. Atau contoh lainnya adah pernyataan presiden yang akan mensejahterakan petani dan membangun kesejahteraan kaum petani, namun dalam realitasnya belum ada kebijakan politik yang konkrit dan tegas menyasar langsung pada upaya mensejahterakan petani, bahkan penerapan pajak impor beras untuk membendung membanjirnya produk asing kedalam negeri masih sangat rendah, hanya 30 persen saja.

     Contoh lain seperti kasus ledakan tabung gas 3 kg. yang masih terjadi hingga hari ini, kasus pemberantasan korupsi yang dalam pencitraannya menjadi salah satu target penting masa jabatannya namun dalam kenyataannya malah diserahkan pada satu lebaga ad hoc, kasus bank Century hingga berbagai kasus besar lainnya yang akhirnya hanya terjebak pada perdebatan pencitraan presidennya saja, bukan pada substansi dan penyelesaian persoalan pokoknya. 

     Pernyataan dan kebijakan-kebijakan yang ditempuh tersebut dinilai tidak sedikitpun menjawab substansi persoalannya. Presiden dinilai selalu mengalihkan jawabannya ke arah pencitraan, yang bisa membuat publik simpatik, tetapi tidak pernah terdengar Presiden menjawab substansi persoalan yang terjadi.

     Politik pencitraan memang sangat banyak tergantung pada rekayasa media, bahkan SBY dari mulai kiprahnya di dunia politik semasa disisihkan oleh megawati hingga hari ini sangat erat dipengaruhi dan menggunakan media untuk menorong dan membangun citra serta popularitasnya. Media yang berpengaruh nasional selalu menempatkannya dalam porsi pemberitaan yang cukup gencar. Bahkan tidak jarang pada masa kampanye masyarakat akhirnya seperti membeli kucing dalam karung, karena ketidakfahamannya atas apa dan siapa sosok dan tokoh yang dipilihnya.

     Melencengnya substansi menjadi perdebatan tentang politik pencitraannya, bukan pada substansi pokok persoalan (misalkan saat kebijakan kenaikan harga BBM dan pengalihan dari minyak tanah ke gas elpiji menjadi pokok persoalan, maka yang kemudian ramai diperdebatkan adalah cara dari SBY merespon kritikan masyarakat tentang dua isu tersebut dengan politik pencitraannya) hanya akan menjadi sebuah pembodohan publik dan menjadikannya semakin jauh bersentuhan dengan realitas layaknya sebuah menara gading. 

     Dalam konteks ini politik pencitraan seperti ini bahkan dianggap berdosa karena memberi ‘make up’ yang berhasil menutup ‘wajah asli’ dari realitas yang terjadi dan dialami masyarkat negeri ini pada hari ini. Menggiring opini publik pada sebuah 'kesan' atau image yang sebenarnya bukannlah realitas, namun seolah menjadi sebuah realitas, bahkan lebih menarik, lebih menjual dan lebih meyakinkan dari sebuah realitas melalui kemasannya.

     Kalaupun kemudian pencitraan ini oleh kalangan istana dianggap sebagai sesuatu yang dipandang bernilai positif, namun pada kenyataanya upaya-upaya politik pencitraan ini mendapat penilaian buruk dan menjadi berdampak negatif karena pencitraan tersebut tidak diimbangi dengan ketegasan Presiden dalam penegakan hukum dan kebijakannya.

     Pada akhirnya model politik pencitraan ini hanya akan menempatakan rakyat pada jurang ketidakberdayaan dan pembodohan oleh pemimpinnya, menempatkan masyarakat sebagai objek yang semakin hari semakin buta akan realitas yang terjadi dan dialami oleh dirinya dan saudara-saudaranya di pelosok negeri. Bahkan pada akhirnya model politik ini hanya akan menyengsarakan rakyat, karena tidak mampu menjadi jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalah nyata yang terjadi dan dialami rakyat di negeri ini.

     Media massa juga sering dimanfaatkan untuk melakukan pembunuhan karakter, menggunakan media massa sebagai sarana untuk menyerang atau menjelekkan citra lawan politik menjadi satu strategi massif dan efektif, sehingga sudah sangat penting jika media mutlak harus menempatkan dirinya di posisi yang profesional, mandiri dan selektif terhadap apa yang akan disebarluaskannya, tidak terjebak pada kepentingan satu pihak dan golongan.

     Media hari ini penting mendidik masyarakat negeri ini yang masih ‘terjebak pada kemasan dan citra’ ketimbang realitas untuk menjadi masyarakat yang kritis dan mampu memahami realitas secara dalam, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan permainan politik kemasan.

     Media harus menyadarkan dan mengingatkan masyarakat dari lupa, karena sekali lagi mengutip Milan Kundera, perjuangan melawan dampak buruk politik dan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa, bahkan Marxis dalam teorinya mengatakan bahwa orang kerap terjebak oleh citra, karena memilih berdasar kesadaran palsu(membeli citra yang palsu), yang kemudian sadar akan hal-hal buruknya setelah sesuatu menjadi miliknya.

* * * *



17 Oktober 2010

dididik menjadi peng'ekor

Masih mengungkit tentang dunia pendidikan negeri ini ...
Rekaman bobodoran dalam bahasa sunda (Cerita Cangehgar) ini saat pertama kudengar spontan membuat tertawa, karena keluguan dan kepolosan berpikir anak-anak dalam alur ceritanya, berpadu dengan bebasnya ekspresi imajinasi dunia mereka dihadapan pemikiran orang dewasa (gurunya) pada akhir cerita.

Cangehgar | Satuju.Mp3 | satuded1.blogspot.com

Seandainya saja cerita percakapan kelas ini dilanjutkan hingga akhir yang lain, maka bukan tidak mungkin di akhir sesi si ibu guru akan menyalahkan jawaban murid-muridnya ....

Dalam realitas sesungguhnya cerita ini bukan tidak mungkin terjadi, malahan bahkan sudah terjadi, dan masih terjadi dalam dunia pendidikan di negeri ini. Negeri dimana pendidikan yang diajarkan banyak yang masih hanya berupa 'penjejalan' doktrin satu arah dari orang dewasa yang notabene menjadi pendidik(guru maupun dosen) kepada warga didiknya, dengan mengabaikan ekspresi imajinasi dan berpikir imajinatif kreatif warga didiknya yang masih lugu(anak-anak).

Warga didik hanya kerap diajarkan 'membebek', harus tunduk dan membenarkan apa yang menjadi konsep kebenaran menurut pendidiknya, bahkan hingga dunia pendidikan tinggi sekalipun.

Anak-anak menjadi tidak bebas mengekspresikan kebenaran pemahamannya yang berlandaskan kejujuran empiris yang dialaminya (seperti juga cerita sekolahan di mata keponakan kecilku)
Yang membuat imajinasinya terkekang atau dikekang oleh kendali konsep kebenaran dan pemahaman orang dewasa yang menjadi pendidiknya hingga mereka kerap menjadi takut mengemukakan 'kebenaran' dalam pandangannya.

Akan seperti apa generasi-generasi baru negeri ini kelak bila mereka saat ini hanya dijejali 'ekspresi nafsu' orang dewasa yang mengabaikan kebutuhan dan ekspresi jujur anak-anak?

Semoga generasi yang menjadi pendidik-pendidik mereka saat ini bukanlah golongan 'memble' yang tidak mampu menumbuhkan dan membangun karakter luhur warga didiknya(karena merekapun gagal membangun karakternya), apalagi akan tambah celaka kalau anak-anak ini dijerumuskan dalam(pada) tangan-tangan yang tidak memiliki kompetensi di bidangnya.

* * * * *


19 September 2010

sekolahan di mata keponakan kecilku ...

(Keponakanku yang pernah 'mengadukan' pengalamannya di kelas dengan penuh keheranan)

  Cerita keluguannya kembali kuingat setelah kemarin aku bertemu sahabatku seorang pegiat pendidikan(dia memilih panggilan itu daripada kata guru) dengan dua orang kawannya yang lain di rumahnya, dan nampaknya merekapun memiliki perhatian dan minat yang sama pada dunia pendidikan di negeri ini.

  Perbincangan kami berempat sedikit banyak menyinggung dunia pendidikan saat ini serta beberapa pengalaman interaksi mereka dalam dunianya tersebut.

  Tapi bukan tentang diskusi ini yang ingin kutulis disini, melainkan tentang pengalaman keponakan kecilku saat masuk di tahun pertama sekolah dasarnya tiga tahun lalu.

 Satu kali saat berada di kelas 1 SD dia pernah datang dan bercerita padaku(tepatnya mengadukan pengalamannya di kelas) tentang rasa herannya saat gurunya di kelas menyalahkan jawaban(jujur)nya yang dia sampaikan saat gurunya bertanya padanya.

  Diantara semangat dan rasa herannya kuingat kira-kira percakapan kami saat itu. Dia bernama Mohammad Abdul Syukur, namun panggilan sehari-harinya adalah Abie. Sedangkan dia dan keponakanku yang lain memanggilku dengan sebutan Abah.

  "Abah, kenapa ya jawaban abie disalahkan sama bu guru waktu abi bilang barang-barang yang ada di dalam rumah abi tempat orang berkunjung(ruang tamu maksudnya) itu adalah tempat tidur dilantai, tv, lemari pakaian, mainan dan tempat makanan?”.

  Aku lantas bertanya padanya, “Memangnya jawaban yang menurut ibu gurumu itu apa Bie?”.

  “Ibu guru bilangnya sih yang ada di ruangan tempat orang bertamu di rumah kita itu adalah kursi tamu dan meja tamu. Padahal kan ibu guru itu tidak pernah datang ke rumah Abie, dan di rumah Abie itu tidak ada kursi dan meja tamu”.

dan seterusnya dan seterusnya …

(Tiga keponakanku lainnya diantara barang-barang dalam rumah kontrakan)

  Aku saat itu berpikir dan heran juga dengan konsep ‘benar ideal’ menurut gurunya yang notabene dari sudut pandang relatif seorang dewasa.

 Sementara aku justru melihat sebuah konsep ideal menurut orang dewasa itu belum tentu merupakan kebenaran yang ideal, apalagi bila harus kemudian dipaksakan dijejalkan pada dunia dengan cara pandang dan sudut pandang yang lain, seperti pada anak-anak yang masih lugu. Bahkan justu aku melihat sebuh kebenaran yang sesuai dengan realitas serta jujur seperti yang disampaikan lugu oleh seorang anak kelas 1 SD itu justru tidak dihargai dan hanya dipandang dari kacama benar-salah.

  Keponakan kecilku memang tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil bersama Ayah Ibunya yang pada kenyataannya memang tidak menyediakan meja dan kursi buat tamu. Tamu yang berkunjungpun cukup duduk lesehan di gelaran karpet di lantai ruangan. Kemudian ruangan itu berfungsi juga sebagai ruang keluarga, ruang makan sekaligus ruang tempat tidur.

  Cukup banyak lontaran keherananku setelelah cerita keponakan kecilku itu, jangan-jangan selama ini masih banyak diantara mereka yang mengandalkan kejujuran yang benar harus disalahkan oleh sebuah konsep ‘kebenaran ideal’ menurut kacamata pandang kebanyakan orang atau orang-orang dewasa(seperti kasus keponakanku dengan gurunya).

  Bahkan konsep sebuah ruang tamupun seperti cerita diatas harus seperti bayangan ideal seorang dewasa yang ‘notabene dipaksakan’ pada anak kecil. Nyatanya bagi siapapun yang berpikir dewasa dengan terbuka justru konsep ruang tamu itupun masih sangat bisa diperdebatkan dan tidak harus selalu ada kursi dan meja tamu.

  Dan akhirnya kejujuran yang lugu dari seorang anak kecilpun harus berati salah atau benar dihadapan ‘egoisme’ orang-orang dewasa yang mendiktenya.

  Anak-anak hingga hari ini baik di dalam kelas-kelas sekolah formal ataupun di dalam lingkungan sosialnya sangat mungkin masih menjadi korban untuk 'dipaksa' menerima kebenaran menurut konsepsi pemahaman orang dewasa melalui corong pengajarnya di kelas atau orang-orang dewasa di sekitarnya.

  Hingga akhirnya kejujuran dan keluguan realitas sekaligus sebagai asasi pandangan seorang anak kecilpun dinafikan dan dinilai sesuatu yang salah, sungguh memprihatinkan.


* * * *


18 September 2010

mudik, tradisi sakral kaum rantau ...

(Mudik menggunakan sepeda motor menjadi tren saat ini)
Pola pembangunan yang lebih sentralistik yang berpusat di kota-kota besar berakibat pada aktifitas ekonomi dan distribusi uang, pendidikan dan kesejahtreraan lebih banyak berada di kota-kota besar di Indonesia. Inilah penyebab derasnya masyarakat daerah berbondong-bondong malakukan urbanisasi menuju pusat-pusat perkotaan, hingga bagi masyarat umum tempat yang dituju dalam proses merantau identik dengan tempat yang harus jauh lebih baik kondisi ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosialnya.

  Namuh khusus pulau Jawa yang penduduknya lebih padat dibanding pulau-pulau lain di nusantara, proses merantau tidak hanya dilakukan menuju pusat-pusat kota melainkan juga ke pulau-pulau lain yang masih jarang penduduk. Melalui proses transmigrasi yang sudah dikenal dan dilakukan pada masa kolonial Belanda, proses merantau menunjukan bahwa tidak selalu tempat yang dituju adalah yang memiliki kondisi sosial ekonomi lebih baik dari tempat sebelumnya. Pada masa Orde Baru model ini bahkan dikelola pada level departemen khusus(kementerian). Meskipun proses merantau itu dilatarbelakangi berbagai kondisi yang berbeda, namun pada prinsipnya memiliki kesamaan dalam tujuan, yaitu impian mendapatkan hidup yang lebih baik dibanding apabila tetap tinggal di tanah leluhur.

  Merantau sudah menjadi kegiatan turun-temurun yang umum di nusantara tak terkecuali apapun sukunya. Namun beberapa budaya masyarakat seperti di pulau Jawa kebutuhan berkumpul dan bersilaturhim dengan keluarga dan kerabat, berbagi rejeki dan kebahagiaan serta menyandarkan diri pada nilai-nilai primordial dan tanah leluhur tetap melekat erat dan tidak pudar hingga saat ini. Tak bisa dipungkiri istilah "Makan tidak makan asal kumpul" setidaknya menunjukan betapa kuatnya prinsip akan kebersamaan dibangun dalam tatanan keluarga.

  Bagi para perantau, hari raya keagamaan (terutama Idul Fitri) menjadi sebuah peristiwa penting dan tepat untuk memenuhi kebutuhan akan nilai-nilai primordial diatas, berkumpul bersama keluarga di tanah leluhur. Meskipun pada prakteknya saat ini aktifitas pulang dari rantau pada perayaan Idul Fitri pada saat ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakt muslim semata.

  Tidak heran kemudian masyarakat lazim memaknai Idul Fitri tidak hanya sekedar dari aktifitas agama dan rohai semata untuk kembali ke fitrah, namun juga mewujud dalam praktek fisik melalui upaya kembali ke kampung halaman, berkumpul dan bersilaturhmi dengan keluarga dan para leluhur. Hingga meskipun para leluhur itu sudah tidak ada, kebutuhan menyandarkan diri pada nilai-nilai leluhur masih bisa dilihat dalam wujud budaya nyekar atau mengunjungi dan mendoakan para leluhur di makamnya pada masa hari raya. Betapa pentingnya kampung halaman dan tanah leluhur bagi para perantau ini.

  Dalam tujuan memenuhi kebutuhan itulah maka ajang peristiwa pergerakan massal masyarakat dari tempat-tempat perantauan, dari kota-kota besar ataupun dari seberang pulau bahkan seberang negara mennjadi suatu pola rutin yang menyertai perayaan hari raya Idul Fitri ini. Proses yang dilakukan secara berulang dari tahun ke tahun yang selalu mengiringi perayaan keagamaan inilah yang lambat laut dikenal sebagai budaya mudik. Mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya (Wikipedia).

  Terakhir, karena mudik sendiri bukanlah substansi dari sebuah tradisi, melainkan sarana atau jembatan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih substansialdari tradisi yang lebih utama yaitu berkumpul, bersilaturhmi, memberi penghormatan pada orangtua dan leluhur, atau bahkan sebagai perwujudan rasa hormatnya pada tanah leluhur.

  Namun karena peristiwa pulang kampung ini dilakukan secara masal setiap menjelang Idul Fitri, maka inilah yang membuat kegiatan mudik memiliki peran penting dalam menggenapi keagungan perayaan hari raya bagi masyarakat Indonesia. Peristiwa yang hanya terjadi di Indonesia ini lambat laun menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan setiap Idul Fitri. Peristiwa ini menunjukan masih kuatnya mayoritas masyarakat muslim Indonesia menyandarkan diri pada nilai-nilai tradisi budaya primordial yang diwariskan leluhur, disamping memperlihatkan tentang kegiatan merantau ke tempat yang jauh dari kampung halaman menjadi sesuatu yang sudah dilakukan begitu banyak masyarakat secara turun temurun di negeri ini.


* * * * 


11 September 2010

tape ketan uwa istri... (sebuah kasih sayang yang tulus diantara lintasan waktu)

   Lebaran dalam pandangan sederhana masyarakat umum selain selalu identik dengan mudik, identik dengan berpakaian baru, juga identik dengan hidangan-hidangan khas tahunan yang hampir selalu ada di tiap-tiap keluarga.

    Salah satu hidangan khas lebaran yang aku suka adalah tape ketan hitam, terutama buatan Uwa (sebutan bahasa sunda kepada kakak dari orang tua kita). Aku merasa tergoda untuk akhirnya menuliskan tentang tiga hal ini di blogku, tentang Uwa-ku, tape katan hitam dan tentu saja sawah dimana padi ketan itu ditanam. Setelah kembali aku kembali merasakan nikmatnya tape ketan olahan tangan dari Uwa istri ini pada lebaran ini.

(Uwa istri, yang masih semangat di usia sepuhnya)
    Beliau(Uwa istri) kini seorang janda yang belum genap setahun ditinggal 'pupus' (bahasa sunda untuk kata meninggal) oleh suaminya. Pasangan sepuh ini memang sangat pandai membuat tape ketan hitam yang rasanya begitu manis segar tanpa bahan pemanis buatan, rasanya yang 'kareu'eut' (manis segar alami) membuatnya begitu menggiurkan disantap saat cuaca panas. Tak hanya itu, mereka juga pandai membuat olahan makanan-makana tradisional sunda lainnya selain tape ketan. Begitulah, sepeninggal suaminya kini uwa istrilah sendiri yang membuat tape ketan yang khas ini.

    Beliau sepuh yang masih terbilang tetap bugar dan semangat, bahkan tutur sapanya selalu menunjukan dia seorang yang penuh semangat di usia sepuhnya, barangkali  karena aktifitasnya yang selalu bergerak dan bekerja di sawahnya yang tinggal beberapa tumbak saja itu membuatnya tetap terlihat segar. Beliau dan almarhum suaminya adalah tipe pekerja keras yang penuh kesederhanaan.

    Lebaran ini beliau datang ke rumah kami yang hanya beberapa puluh meter saja jaraknya dari rumahnya, dan tidak berlama-lama di rumah kami, karena ada tempat lain yang menjadi sangat istimewa baginya saat ini dan begitu ingin dia kunjungi segera, makam almarhum suaminya(Uwa pameuget).

    Ya, beliau ingin segera menatap kekasih hatinya yang sudah berpuluh tahun hidup bersamanya yang sisa jasadnya kini terbaring di pemakaman umum penduduk lokal, walau tentu saja keingginan itu hanya bisa ditumpahkan dengan hanya menatap gundukan tanah makam suaminya. Makam yang berada di satu bukit kecil yang tersisa di diantara tanah-tanah kosong milik pengembang pemukiman dan himpitan vila-vila mewah di lereng utara Bandung yang kini bernama Resort Dago Pakar.

(Satu tempat yang dalam pandanganku sudah sedemikian rupa menghancurkan tatanan kearifan lokal daerah asal sebelum dibangun saat ini, hingga menghancurkan secara fisik rantai ekologi dan sosial yang telah terbangun secara alami di kawasan itu jauh-jauh masa sebelum pengembang-pengembang pemukiman itu datang.

Tapi aku sedang tidak ingin menceritakan tentang kawasan yang 'gila' ini, karena hanya akan membuat jengkel dengan yang namanya pengelola negeri ini di tingkat lokal atas perilaku dan 'kebodohan' mereka menggadaikan sebuah sumberdaya alam.
Aku hanya ingin bercerita saja tentang Uwaku saat ini...).

    Makam itu menjadi sangat istimewa saat ini baginya ketimbang tempat-tempat lain dan berlimpahnya hidangan istimewa diantara kemegahan hari raya serta senyum bahagia setiap keluarga.

    "Uwa teu tiasa lami-lami, hoyong enggal-enggal munjungan si Uwa pameuget di makam....", 

Begitu ucapannya pada kami diantara matanya yang kembali berkaca-kaca.
    Tak kuasa airmatakupun perlahan ikut pecah diam-diam, terharu diantara percakapan keluarga ini. Inilah cinta dan kasih sayang sesungguhnya yang abadi melintas waktu, demikian pikirku saat itu.

    Dan sekonyong-konyong terlintas kenangan sosok almarhum suaminya yang begitu ramah dan penuh kharisma bagiku semasa hidupnya. Beliau berdua memang orang tua yang sangat penuh kebaikan, hingga hampir pasti semua orang di kampung(yang sudah menjadi kota) ini mengenalnya dengan cukup baik, mengenal kebaikan-kebaikan kedua pasangan sepuh ini.

    Kini memang tinggal uwa istri yang sendirian mengurus sawahnya, meskipun dalam proses mencangkul dan membajak sawa yang hanya tinggal beberapa petak ini diserahkan kepada para pengupah, namun tanggung jawab mengelolannya tetaplah berada di tangannya, sementara anak-anaknya tidak ada yang total melanjutkan menggarap sawah sepeninggal suaminya.

    Sawah yang hanya beberapa petak, yang masih diairi oleh mata air yang tinggal beberaa yang tersisa di sekitar tepian sawah ini, ternyata masih mampu menghasilkan padi yang berkualitas dan menjadi hidangan istimewa bagiku di hari raya ini.

    Sawah yang mengingatkanku pada sepasang sepuh yang selalu giat dan semangat dalam hidupnya ditengah kesederhanaan.
Sawah yang mungkin juga hanya akan bertahan dalam hitungan bulan atau tahun saja, diantara desakan bangunan-bangunan beton yang mulai merambah masuk.
Sawah yang mengingatkanku begitu tidak becusnya pengelola kota ini menyelamatkan aset-aset subur dan potensial di dalam kawasannya.

    Itulah salah satu sawah yang masih tersisa di dalam kota bandung, yang masih diairi oleh kucuran mata air disela-sela lereng dan rumpun bambu yang juga mulai perlahan tergerus pemukiman mewah.
Sawah yang kini masih dikelola oleh uwa istri sepeninggal pujaan hatinya dan pendamping hidupnya berpuluh tahun, yang kini terbaring di makam sepi di bukit kecil bernama Jiwanaya ...



Cigadung Wetan Bandung, 2 syawal 1431 H.

(Terima kasihku buat uwa istri dan almarhum suaminya...., mengajarkan sebuah cinta dan kasih sayang abadi yang tulus tak lekam oleh waktu)


* * * *